Search
Time
Minggu, 29 Mei 2011
Sunan Gunung Jati
Orang telah sepakat bahwa penyebar agama islam di jawa barat terutama daerah cirebon adalah sunan gunung jati. Sunan gunung jati itu nama aslinya adalah Syarif Hidayatullah. Antara sunan gunung jati dengan fatahillah atau falatehan seringkali. Terjadi kekacauan. Orang menyangka sunan gunung jati adalah fatatehan atau fatahillah. Sebenarnya sunan gunung jati dan fatahillah adalah dua orang yang berbeda yang satu telah lama bermukim di cirebon satunya lagi adalah pejuang demak yang berasal dari negeri pasai atau malaka.
Setelah malaka jatuh ke tangan portugis. Fatahillah pindah ke demak dan raden trenggono dikawinkan denan adiknya. Lalu fatahilla di tugaskan ke jawa barat. Bersama para pengikuti sunan gunung jati, fatahillah menyerang banten dan sunda kelapa yang dikuasai pajajaran. Kedua tempat itu diserang karena pajajaran telah memperbolehkan portugis membuat benteng di sunda kelapa. Pada tahun 1527 fansisco de sa berhasil diusir dari sunda kelapa, pimpinan portugis itu itu terpaksa kembali ke malaka. Menurut kitab purwaka caruban nagari (ditulis dalam huruf jawa berbahasa kawi cirebon). Pangeran cakrabuana dan adiknya yaitu ratu mas Rarasantang yang sudah masuk islam melaksanakan rukun islam yang ke lima yaitu naik haji ke tanah suci. Putra putri prabu siliwangi ini pada suatu hari di datangi utusan dari sultan Abdullah, mesir. Tujuannya sang sultan ingin melamar ratu mas Rarasantang untuk di jadikan istri.
Konon sultan yang sudah duda itu mendapat petunjuk dan kebetulan jodohnya itu mirip dengan wajah mendiang istrinya. Rarasantang menerima lamaran itu. Pangeran cakrabuana bertindak sebagai wali. Pernikahan dilaksanakan di mesir dengan cara syafil (mahdzab imam syafii). Pangeran cakrabuana sempat tinggal di mesir selama enam bulan sesudah itu dia pulang ke tanah jawa. Rarasantang hidup berbahagia bersama suaminya di negeri mesir. Nama Rarasantang sekarang adalah syarifah mudaim. Ketika syarifah mudaim mengandun tujuh bulan dia diajak suaminya berziarah ke mekkah dan madinah. Di mekkah, syarifah mudaim melahirkan anak pertamanya yaitu anak laki-laki yang kemudian dinamakan syarif hidayatullah.
Dalam usia masih muda (masih kecil) syarif hidayatullah ditinggal mati oleh ayahnya. Ia hanya diasuh oleh ibunya. Dalam usia muda itu dia sudah menunjukan minat yang besar untuk menunjukan mempelajari agama islam. Syarif hidayatullah tekun mempelajari berbagai kitab agama islam. Mulai dari syariat sampai hakikat atau tarekat. Pada usia 20 tahun berguru kepada beberapa syeh di daratan timur tengah. Setelah selesai menuntut ilmu, pada tahun 1470 dia berangkat ke tanah jawa untuk mengamalkan ilmunya.
Istrinya yang pertama adalah nyai babadan. Wanita itu dinikahi pada tahun 1471. dia adalah putrid ki gedeng babadan. Perkawinan dengan nyai babadan ini tidak dikaruniai seorang putra pun. Pada tahun 1475 syarif hidayatullah kawin lagi dengan nyai kawungten, adik bupati banten. Banten pada waktu itu masih berada di bawah kekuasaan pakuan pajajaran. Baru saja usia perkawinan syarif hidayatullah dengan nyai kawunten berusia dua tahun. Istri pertamanya yaitu babadan meninggal dunia. Dari perkawinannya denan nyai kawunten, syarif hidayatullah mendapatkan dua orang keturunan. Yaitu ratu winohan dan pangeran sebakingking. Pangeran sebakingking inilah yang kelak menjadi bupati banten dengan gelar pangeran Hasanudin
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar